RICO DE CORO OLEH DEE
image Allysa Ollivar Aku lahir di dalam meja kayu antik yang penuh ukiran. Meja bulat berlapis kaca itulah tempat persinggahan ibuku yang terakhir. Untung Ibu sempat melekatkan telurku di antara lekuk ukiran sebelum wafat disemprotkan Baygon. Kalau tidak aku tak akan mengalami kisah ajaib ini. Aku jatuh cinta. Dan itu merupakan masalah besar bagiku, dan bagi bangsaku. Gadis yang kucintai adalah manusia remaja berparas manis dengan nama yang manis pula: Sarah. Rambutnya sebahu, sedikit ikal, kulitnya cerah dan wangi. Dialaha manusia yang paling baik di rumah yang kutumpangi ini. namun, bagi bangsaku, dia tak lebih dari seorang pembunuh. Padahal aku tahu pasti, Sarah tidka mungkin membunuh. Sering aku mendengar dia berbicara pada setiap orang: ‘Kalau saya melihat kecoak, biar dari jarak lima meter, bukan dia yang lari, tapi saya yang ngacir duluan!’ lalu matanya membelalak. Indah sekali. Memang demikian yang terjadi. selama ini oknum-oknum yang sering memburu kami hanyalah Bi Ipah,...