Posts

Showing posts with the label cerpen islami

CERPEN MENANTI BANGAU LEWAT OLEH ASMA NADIA

Image
image Mewa Heron   Teng !…jam dinding berdentang satu kali. Malam semakin larut, tapi Anis masih duduk di ruang tengah. Sejak tadi matanya sulit terpejam. Baru beberapa jam yang lalu Ibu Mas Iqbal, suaminya, menelepon, "Nis, Alhamdulillah, barusan ini keponakanmu bertambah lagi..." suara ibu terdengar sumringah di ujung sana. "Alhamdulillah…, laki-laki atau perempuan Bu ?" Anis tergagap, kaget dan senang. Sudah seminggu ini keluarga besar Mas Iqbal memang sedang berdebar-debar menanti berita Dini, adik suaminya, yang akan melahirkan. "Laki-laki, cakep lho Nis, mirip Mas mu waktu bayi…" Ibu tertawa bahagia. Dini memang adik yang termirip wajahnya dengan Mas Iqbal. "Selamat ya Bu nambah cucu lagi, salam buat Dini, insya Allah besok pulang kerja Anis dan Mas Iqbal akan jenguk ke rumah sakit" janji Anis sebelum menutup pembicaraan dengan Ibu yang sedang menunggu Dini di rumah sakit. Setelah menutup telpon Anis termenung sesaat. Ia jadi teringat usi...

IDIS OLEH HELVY TIANA ROSA

Image
image M. Sochieb   Begitu senja. Jalan setapak di batas Batu Licin yang sejak tadi kususuri semakin gelap. Pepohonan dan daun-daun melambai berharap mentari sudi mengintip sebentar saja lagi, mengiringi langkahku yang entah ke mana ini. Kupercepat langkah. Setengah berlari kubawa gejolak tak menentu, buncahan duka, airmata yang membuat sungai kepedihan semakin panjang dalam diri. Perang! Perang! Perang yang membara sejak aku belum dilahirkan, hingga kematian kedua orangtua dan sanak saudaraku. Perang yang tiada berujung! Ya, Belanda memporak-porandakan semua. Abak-ku hanya tukang perahu yang tewas kehabisan darah, saat Van Hengst dengan penuh dendam memotong-motong lalu mengirimkan kaki, tangan dan kedua mata Abak yang dicungkilnya keji kepada Pangeran Hidayat untuk menakut-nakuti pemimpin teguh itu agar tak lagi mengajak rakyat Banjar berjuang. Umak, wanita yang melahirkanku pun cuma wanita biasa yang kutemukan tewas setelah dianiaya dan diperkosa belasan penjajah Belanda di bera...

JARING-JARING MERAH OLEH HELVY TIANA ROSA

Image
image Tracy Mireles Apakah kehidupan itu? Cut Dini, temanku, selalu saja marah bila mendengar jawabanku: Hidup adalah cabikan luka. Serpihan tanpa makna. Hari-hari yang meranggas lara. Ya, sebab aku hanya bisa memendam amarah. Bukan, bukan pada rembulan yang mengikutiku saat ini atau pada gugusan bintang yang mengintai pedih dalam liang-liang diri. Tetapi karena aku tinggal sebatas luka. Seperti juga hidup itu. Dan kini hari telah semakin gelap. Aku tersaruk-saruk berjalan sepanjang tiga kilometer dari Seurueke, menuju Buket Tangkurak, bebukitan penuh belukar dan pepohonan ini. Dadaku telah amat sesak, tetapi langkahku makin kupercepat. Lolong anjing malam bersahut-sahutan, seiring darah yang terus menetes dari kedua kakiku. Perih. Airmataku berderai-derai. “Ugh!” Aku tersandung gundukan tanah. Dalam remang malam, kulihat dua ekor anjing hutan mengorek-ngorek sesuatu, dan pergi sambil menyeret potongan mayat manusia. Mereka menatapku seolah aku akan berteriak kengerian. Ngeri? Oi, tah...