CERPEN KOTA RAWA OLEH RAUDAL TANJUNG BANUA
Image Richard Wright Di dunia yang diliputi bintang khayal, kabut imajinasi, nama-nama dan impian, tak semua kenyataan lahir dari bayangan, sebagaimana tak semua bayangan lahir dari kenyataan. Kita hidup di dunia ketiga dari matahari1, demikian Bob Perelman dalam sebaris sajak yang tak kepalang menghentak. Entah kenapa, ia meletakkan khayalku di antara malaikat dan kurcaci. Nomor tiga. Kita bisa saja menghitungnya dari Merkurius, di mana bumi memang terletak di urutan ketiga dari matahari. Tapi sejak bertahun-tahun lalu, orang-orang dari negara maju menganggap dunia ketiga itu identik dengan kemiskinan, dunia sedang berkembang. Jadi antara sebutan dan kenyataan bisa berbeda, kadang tak terduga. Itulah yang kurasakan ketika perlawatan membawaku ke sebuah kota yang tak pernah kubayangkan, namun kemudian kutapaki dengan mesra. Aku tiba mula-mula dengan hasrat ingin melihat kerbau kalang atau kerbau rawa. Di Banjarmasin kudengar kabar kalau kerbau rawa digembalakan di hamparan rawa yang...