Posts

Showing posts with the label cerpen

CERPEN MERPATI-MERPATI MAKKAH OLEH IRWAN KELANA

Image
image Gary Griffith Akhirnya, aku tiba juga di kota yang kurindukan ini. Makkah, kota kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, lokasi Masjid al-Haram berada. Kemarin pagi aku dan 29 wartawan Indonesia dari berbagai media tiba di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Dari Jeddah, kami naik bus ke Madinah yang berjarak sekitar 450 kilometer selama kurang lebih enam jam. Shalat di Masjid Nabawi dan mengunjungi beberapa tempat di Kota Nabi tersebut. Bakda Isya kami melanjutkan perjalanan ke Makkah dengan bus. Sebelumnya, kami mampir di Bir Ali untuk mengambil miqat dan mengenakan pakaian ihram. Perjalanan sepanjang sekitar 490 km itu kami tempuh dalam waktu sekitar enam jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari ketika bus tersebut tiba di kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Dari jarak belasan, bahkan lebih 20 kilometer, Abraj Al- Bait Tower, gedung tertinggi di Kota Makkah tampak megah seakan mengucapkan selamat datang. Sebuah jam raksasa ...

CERPEN SWETER OLEH YETTI A. KA

Image
image Aku tahu siapa yang meletakkan stoples itu di atas bufet kayu tepat di sisi foto keluarga —foto kita; aku, kau, dan papamu yang tentu saja mengenakan sweter terbaiknya. Waktu itu kau ingin memerangkap serangga. Kau tak pernah mendapatkan serangga jenis mana pun, sebab binatang itu lebih banyak hinggap di dinding luarnya saja atau sebagian terbentur tak sengaja lalu buru-buru terbang lagi. Namun, tak disangka, suatu hari ternyata stoples itu berhasil memerangkap waktu dan setelah itu waktu seolah berhenti di sini dan aku banyak berada di masa lalu. Kalau saja kau melihatnya sekarang, kalau saja kau di sini, kau mungkin akan terpana dan berteriak sekencang-kencangnya sampai suaramu menembus atap rumah cokelat tua kita. Dari kecil kau memang suka sekali berteriak. Papamu tak suka mendengar suaramu yang cempreng (jangan berkecil hati, ia memang tak suka mendengar suara siapa pun). Kamar kerjanya berada di lantai dua. Dan dia sering sengaja turun untuk memperingatkanmu—kadang-kadang...

CERPEN MALAM RAJAM OLEH BENNY ARNAS

Image
image Avareli Jelang dini hari. Di sebuah ranjang berkelambu coklat muda. Kau terlelap tanpa dengkur. Telanjang dada. Bersarung sebatas lutut. Di sampingmu, terbaring sebatang tubuh molek yang hanya dibalut kain lasem sebatas dada, hingga terintip ceruk di antara dua bukit tinju yang ditutupinya. Selingkaran lehernya menyerak tanda merah sebesar ujung jempol, bagai habis dihisap-kecap. Air muka kalian menyemburatkan lelah yang tak biasa. Tengah malam tadi kalian khatamkan sebuah pertarungan yang tertunda sekian lama. Bukan hanya dengan keringat, tapi kalian juga melakoninya dengan hasrat yang mendahaga. Tak ada yang ditetapkan sebagai pamuncak. Kalian sama-sama kuasa. Kalian pula sama-sama kalah. Bakda itu, lelap kalian adalah sebenar lelap. Untuk apalah bermimpi lagi bila angan-angan itu baru saja tertunai?! Tertunai di atas nama pertautan-halal; di atas ranjang yang berseprai anyar; di atas malam yang dipilahku untuk merajam. Membalas dendam! *** Siang tadi pesta perkawinanmu digel...

CERPEN ANAK IBU OLEH BENNY ARNAS

Image
image Apa Bahagia Itu, Anakku Bahagia adalah ketika kau mendapatkan kegembiraan, kedamaian, dan rasa syukur, dalam waktu bersamaan. Hilang saja salah satunya, hidupmu akan timpang. Kau nanti akan mendapati orang-orang yang berlebihan dalam banyak hal. Misalnya seorang hajjah, yang bila melenggang serupa manekin toko emas berjalan; bergelantungan perhiasan di leher, pergelangan tangan, centil telinga, bahkan lingkar kakinya. Tapi tak banyak yang peduli bahwa ia selalu dihantui kecemasan. Suaminya dibelit kasus korupsi, pun saban dua minggu harus cuci darah; anak-anaknya sudah tiga kali tertangkap basah nyimeng di belakang sekolah. Kau jangan mencari kegembiraan dengan mengorbankan rasa damai, Anakku. Kau jangan lupa bersyukur hanya karena merasa semua didapat lewat kerja kerasmu. Kau jangan jadi orang kaya yang miskin! Seperti Neknang Mengapa orang-orang tua banyak yang renta? Selain perkara usia, karena mereka tak mampu mengambil saripati kehidupan yang sudah kapalan dilalui. Mereka he...

CERPEN KOTA RAWA OLEH RAUDAL TANJUNG BANUA

Image
Image Richard Wright Di dunia yang diliputi bintang khayal, kabut imajinasi, nama-nama dan impian, tak semua kenyataan lahir dari bayangan, sebagaimana tak semua bayangan lahir dari kenyataan. Kita hidup di dunia ketiga dari matahari1, demikian Bob Perelman dalam sebaris sajak yang tak kepalang menghentak. Entah kenapa, ia meletakkan khayalku di antara malaikat dan kurcaci. Nomor tiga. Kita bisa saja menghitungnya dari Merkurius, di mana bumi memang terletak di urutan ketiga dari matahari. Tapi sejak bertahun-tahun lalu, orang-orang dari negara maju menganggap dunia ketiga itu identik dengan kemiskinan, dunia sedang berkembang. Jadi antara sebutan dan kenyataan bisa berbeda, kadang tak terduga. Itulah yang kurasakan ketika perlawatan membawaku ke sebuah kota yang tak pernah kubayangkan, namun kemudian kutapaki dengan mesra. Aku tiba mula-mula dengan hasrat ingin melihat kerbau kalang atau kerbau rawa. Di Banjarmasin kudengar kabar kalau kerbau rawa digembalakan di hamparan rawa yang...