Posts

Showing posts with the label cerpenis

MACAN LAPAR OLEH DANARTO

Image
image Jossef Klopacka Ketika saya membaca SMS dari sahabat saya William John dari California bahwa ia akan datang ke Solo untuk mencari Putri Solo yang gaya berjalannya seperti Macan Lapar, saya terbahak. Ketika ia melanjutkan SMS-nya bahwa jika ia tidak menemukan seorang Putri Solo yang Macan Lapar itu, dalam bahasa Jawa: Macan Luwe, berarti saya menyembunyikannya. Lagi-lagi saya terbahak. Sebaliknya saya mengancam, jika ia main-main saja dengan Putri Solo, misalnya mengajaknya kumpul kebo, saya akan melaporkannya ke Presiden Obama. Ternyata John berani bersumpah bahwa ia serius akan menikahi Putri Solo yang Macan Lapar itu dan memboyongnya ke Amerika. Anak keturunannya kelak, janji John, merupakan masyarakat baru Amerika yang akan mendatangkan berkah. Saya menyambutnya dengan mengucap amin, amin, amin. Okey, jawab saya. Insya Allah, John, saya akan membantumu untuk menemukan Putri Solo si Macan Lapar itu. John adalah seorang arkeolog. Perkenalannya dengan dunia Timur ketika ia melan...

KIAI WAFIR DAN SI PECI HIJAU OLEH RAEDU BASHA

Image
image abstrak Tahun 1939 Dua tahun silam, ingatannya masih merekam jelas kala ratusan warga Desa Tosolong berbondong mendatangi rumahnya. Mereka mendesak Kiai Wafir menjadi kalebun. Yang paling ia ingat adalah seorang lelaki gempal berpeci hijau yang mendekat ke hadapannya, duduk membungkuk dan bertutur takzim padanya: ”Kiai Wafir tak perlu resah. Jika suatu saat nanti terjadi masalah berat, tulislah sebuah surat pada selembar daun talas di sepanjang Pantai Tosolong ini.” Logat Si Peci Hijau itu tak seperti logat orang pesisir biasanya yang kasar. Air mukanya meneduhkan. Andap asor, tak umumnya perangai masyarakat Desa Tosolong. Kiai Wafir terkesan pada lelaki tak dikenal itu. Tak hanya sekali saja warga Tosolong berbondongan datang ke rumahnya, sejak kalebun sebelumnya wafat. Kiai Wafir sebenarnya jemu. ”Memimpin pondok pesantren bagiku saja sudah beban, tegakah kalian menambahkan bebanku?” ujarnya. Tetapi seketika mulutnya kelu manakala ia jumpa Si Peci Hijau yang juga hadir di te...

LENGTU LEMUA OLEH TRIYANTO TRIWIKROMO

Image
image small wild board Tepat tengah malam celeng-celeng yang telah kerasukan ratusan iblis itu akan menyeruduk seluruh warga dan tak memberi kesempatan mereka untuk mendengarkan lagi keributan bangau dan gesekan daun-daun bakau dengan angin amis yang risau…. Laut tak sedang mendamparkan perahu Nuh ke kampung yang karena terlalu sunyi lebih mirip hiu tidur itu. Laut—dalam ketenangan musim kemarau—juga tidak sedang menebarkan kolera busuk ke tanjung tenang berpenghuni orang-orang yang teramat karib dengan lapar dan kemiskinan. Tetapi memang ada sembilan perahu yang merapat ke ujung tanjung tak jauh dari makam keramat. Sembilan perahu itu mengusung sembilan celeng milik Jamuri, juragan dari kota, yang dikawal oleh sembilan cempiang atau jagoan berseragam loreng-loreng. Tentu tak ada seorang pun di kampung itu yang ingin beternak celeng. Tak juga tetua kampung, Kiai Siti. Apalagi Panglima Langit Abu Jenar, pemeluk teguh syariat, yang sangat mengharamkan binatang bertaring yang menjijikkan...